Berita Utama

“Nyawa Kami Terselamatkan Pohon Bakau”. Sekeluarga Dihempas Tsunami !

Foto Ist- Shodiq (12) salah satu korban tsunami yang selamat setelah berpegangan pada pucuk pohon bakau di lingkungan cottage Alau-Alau, Lampung Selatan. Foto diambil beberapa jam sebelum tsunami.

Laporan Dimas Febiyansyah

BANDARLAMPUNG – Bencana dahsyat Tsunami yang menghantam daerah perairan Lampung Selatan pada Sabtu (22/12) itu dikabarkan telah menewaskan ratusan orang. Rupanya terdapat kisah selamatnya empat insan yang berhasil selamat dari amukan tsunami yang memporakporandakan daerah itu, setelah berjam-berjam bertahan hidup di pucuk pohon bakau.

Pengalaman Fajar (26), Agung (36), Ari (22) dan Shodiq (12) di Pantai Laguna Alau-Alau itu bakal terus terngiang di benak mereka. Bagaimana tidak, rencana yang hanya ingin liburan keluarga ini mendadak berubah menjadi ajang pertaruhan hidup dan mati.

Fajar datang berlibur tak hanya berempat, melainkan bersama keempat anggota keluarga lainnya. Memulai perjalanan dengan beberapa pertanda buruk, seperti kendaraan roda empat yang mereka tumpangi tersangkut di lubang jalan hingga ban meletus itu tak menyurutkan niat mereka untuk berlibur akhir tahun di pantai tersebut.

Setibanya mereka di pantai, rutinitas biasa yang dilakukan orang pada umumnya ketika berlibur di pantai mereka lakukan, seperti check in cottage, berenang di pantai hingga bakar-bakaran ikan dan udang. Kemudian, mereka berempat pergi memancing sekitar pukul 21.00 WIB dan meninggalkan keempat anggota keluarga lainnya di cottage.

Ketika tengah asyik memancing di bibir pantai, mereka melihat ada ombak yang datang dari kejauhan yang semakin mendekat semakin membesar itu secara spontan mereka berlari menjauhi pantai. Namun hanya hitungan detik berlari, ombak yang mencapai 5 meter itu menghantam mereka tepat di hutan bakau.

“Kita semua bener-bener lihat ada ombak, itu awalnya kecil bang, lama-lama makin gede, awalnya kita tercengang dulu ngeliatin ombak gede itu yang kira-kira sampe 5 meter. Baru kita orang lari sambil teriak Allahuakbar dan nggak lama langsung byur kita orang kegulung ombak,” kata Fajar, warga Kedaton, Bandar Lampung itu.

Beberapa menit terombang ambing oleh tsunami hingga menghempaskan mereka ke pucuk pohon bakau, yang ternyata menjadi kunci keselamatan mereka. Dengan sigap mereka memegang erat pohon itu untuk menggantungkan hidup dari 4 sampai 5 kali terjangan tsunami susulan menghantam mereka bertubi-tubi. Di sela hantaman tsunami berkali-kali itu, mereka sempat saling panggil dan sahut untuk memastikan kondisi mereka dan meneriakkan untuk tetap berpegang erat pada pohon itu dan meminta pertolongan.

Tak hanya air laut yang menghantam mereka, dirasakannya ada seperti kayu-kayu yang membentur keras di tubuh mereka sehingga menyebabkan luka-luka dan memar hampir di seluruh bagian tubuh saat tsunami menuju daratan ataupun sebaliknya.

“Kami sangat bersyukur sekali semuanya dapat megang pohon itu. Seakan nyawa kami terselamatkan pohon itu berkat izin Allah. Terus, waktu gelombang susulan itu balik ke laut dan dateng ke kami lagi, seperti kayu dan entah benda apa menghajar kami itu berkali-kali sampe pada luka dan memar,” cerita dia dengan nada terbata-bata.

Tak sampai di situ, setelah air laut tenang dan diperkirakan tidak ada lagi tsunami susulan, mereka berupaya mencari cara untuk bisa sampai ke dataran yang tinggi dengan cara melompat dari atas pohon ke pohon hingga memakan waktu berjam-jam.

“Waktu sampe pohon terakhir yang dekat daratan dan mengharuskan kami melompat satu persatu, pas giliran saya lompat nggak tau kenapa lompatan saya nggak nyampe daratan, sehingga saya tercebur ke dalam air yang tingginya jauh melebihi badan saya. Sontak membuat saya panik karena saya nggak bisa berenang hingga memaksa saya menelan air laut yang bercampur pasir dan lumpur. Alhamdulillah, salah satu dari mereka itu dapat meraih tangan saya dan berhasil membawa saya ke daratan,” beber dia.

Tanpa istirahat, Fajar bersama ketiga keluarganya melanjutkan berjalan kaki telanjang menyusuri reruntuhan cottage-cottage ulah tsunami untuk mencari keberadaan empat keluarga lainnya yang terpisah dari mereka ketika bencana berlangsung. Dengan kondisi fisik yang sudah melemah dan pandangan yang mulai kabur, tak jarang ia mendengar rintihan dan teriakan minta tolong orang-orang di sekitar reruntuhan itu.

“Rasa sakit waktu itu udah nggak kami rasa lagi, yang ada dalam benak saya itu ketemu keluarga kami yang lain itu dengan kondisi selamat. Sampai kita bertemu dengan warga atau tim bantuan menyarankan kami untuk menaiki gunung tempat paling aman yang ada di lokasi itu,” jelas Fajar.

Sesampainya di atas gunung yang diperkiran pukul 01.30 WIB, tangis pecah setelah mereka bertemu keempat keluarga mereka yang lain dengan keadaan selamat. Dikatakannya, berkali-kali ia bersama keluarganya melakukan sujud sukur sebagai rasa terima kasihnya atas mukjizat yang diberikan kepada dia dan keluarganya selamat dari maut.

“Sempat saya dibawa oleh warga ke Rumah Sakit Bob Bazar Kalianda karena menurut mereka saya yang kondisinya paling parah, karena saat itu saya muntah-muntah dan sushu badan panas tinggi, sampai sekarang pun kalau saya batuk keluar sedikit pasir atau cairan hitam. Alhamdulillah kami sampai rumah dengan selamat sekitar jam 5 subuh pada Minggu (23/12). Pokoknya saya bilang itu mukjizat, Allah telah memberikan kami kesempatan hidup kedua,” tandasnya. (*)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BERITA POPULER

Radar Radio adalah jaringan media yang menyajikan berita terkini dan merupakan bagian dari Radar Lampung Group – Fajar Indonesia Network (FIN).


GRAHA PENA LAMPUNG
Jl. Sultan Agung No. 18, Kedaton, Bandar Lampung Telp : (0721) 782306

Copyright © 2018 Radar Radio

To Top