Daerah

Ratusan Aparatur Desa Bumisari Belajar Pengelolaan Sampah ke Jogya

Jogyakarta – Aparatu Desa Bumisari berikut pengurus BUMDes melihat langsung pengelolaan dan pemanfaatan sampah sehingga meghasilkan nilai ekonomi yang memberikan profit bagi usaha desa juga masyarakat setempat di Desa Banyuraden, Kecamatan Gamping, DIY Jogyakarta, (19/11).

Di desa teraebut, aparatur Desa Bumisari mendapatkan pemaparan secara rinci mulai dari pengempulan sampah dari rumah tangga sampai proses bagaimana bisa menjadi uang dan barang kerajinan yang bisa dijual maupu dipakai sendiri. Terlihat mereka yang turut diboyong RT, LPM, BPD dan kadus tersebut antusias mendengarkan penjelasan yang dilakukan aparatur Desa Banyuraden terkait proses pemanfaatan dan pengelolaan sampah.
Kades Bumisari Yosar Supriono, S.E mengatakan, pada kunjungan tersebut sengaja mengaja seluruh aparatur desa sampai ke tingkat RT dengan tujuan informasi atau ilmu yang di dapat bisa sampai ke masyarakat dan mampu diemplementasikan. “Kami berkunjung langsung ke tempat ini untuk melihat proses dan konsep pengelolaan sampah di sini. Tentunya, desa kami memang sudah ada potensi dalam pengelolaan sampah namun sejauh mana seperti yang kami lihat di sini (Desa Banyuraden’red),” ujarnya.

Mas Supri-sapaan akrabnnya, menambahkan, terkait dengan kerajinan berbahan baku limbah rumah tangga sangat bisa diterapkan di desanya, terutama disesuaikan dengan program PKK. “Kami akan aplikasikan ilmu yang di dapat di desa ini tentunya dengan menyesuaikan kondisi yang ada. Kerajinan dengan memanfaatkan sampah ini memang sangat potensial dalam rangka meningkatkan ekonomi keluarga yang nantinya bisa dijalankan oleh ibu-ibu PKK. Kemudian, saya berharap semua elemen desa bisa menyosialisasikan ilmu atau informasi yang didapat sesuai dengan perannya masing-masing baik itu LPM, Kaum, Kadus dan BPD sampai RT,” tandasnya.

Sementara itu, Sekretaris Desa Banyuraden Hendry mengatakan, pihaknya sangat berterimakasih dengan kedatangan aparatur Desa Bumisari. “Karena desa kami sudah Go nasional maka memang banyak yang berkunjung,” ujarnya.

Menurutnya, dengan adanya pengelolaan dan pemanfaatan sampah di desa masyarakat setempat telah mendapatkan edukasi dan profit bagi rumah tangga masing-masing. “Warga teredukasi mudah-mudahan bisa bertahan sampai anak cucu. Sekaligus, konsep desa kami dapat ditiru oleh berbagai wilayah. Bahkan dengan adanya bank sampah mereka bukan hanya digratiskan dalam iuran sampah tetapi juga mendapatkan penghasilan tambahan dari sampah yang mereka setorkan ke bank sampah,” tandasnya.

Ditambahkan Endah selaku penanggungjawab program pengelolaan dan pemanfaatan sampah Desa Banyuraden bahwa program tersebit dimulai dari Kampung (Dusun) Sukunan. Dia menjelaskan pihaknya meyediakan tiga tempat tong sampah untuk tiga jenis sampah organik dan mon organik dan tidak dikenakan iuran sampah alias gratis. Setelah penuh diangkut petugas juga dalam keadaan terpisah sampai ke gudang sampah.

Selanjutnya,pihak desa memanggil pengepul untuk ditimbang dan dibayar. Dari pengelolaan sampah ini non organik 75 persen laku, 10 persen dimanfaatlan masyarakat. 15 persen yang tidak laku baru diangkut ke TPA,” bebernya.

Selain itu, lanjut Endah, ada juga sedekah sampah, yang hasil penjualannya dimasukan ke rekening nank sampah untuk kemudian disedekahkan ke yang berhal menerima. Selain dijual, 10 persen sampah yang tidak laku dimanfaatkan sebagai kerajinan masyarakat yang diubaj menjadi barang-barang bernilai tinggi. “Nah, sisa 10 persen yang dapat dimanfaatkan untuk Kerajinan di rumah masing yang dikerjakan oleh ibu-ibu seperti Tas gendong, sarung bantal, jok motor dan lain-lain. Pemanfaatan sampah botol seperti tempat sampah, vas bunga bahkan pagar rumah. Untuk kerajinan tas dari sampah plastik sudah ada permintaan dari Lombok, Bal bahlan luar negeri seperti Malaysia bahkan Australia,” ujarnya sembari menjelaskan ada juga Bqta yang dibuat dari campuran kaca, styrofoam dan semen.

Khusus untuk sampah organik, Endah memaparkan sampah tersebut diubah menjadi pupuk kompos yang sangat bermanfaat bagi petani di desa setempat maupun desa tetangga. “Di rumah warga dibuat lubanguntuk pembuatan kompos. Sampah-sampah organik dimasukan ke dalam lubang tersebut dan bisa dipanen sebagai pupuk setelah dua bulan. Mudah-mudahan apa yang ada di desa kami ini bisa diaplikasikan oleh desa lain khususnya Desa Bumisari, Lampung Selatan,” tandasnya. (rdo)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BERITA POPULER

Radar Radio adalah jaringan media yang menyajikan berita terkini dan merupakan bagian dari Radar Lampung Group – Fajar Indonesia Network (FIN).


GRAHA PENA LAMPUNG
Jl. Sultan Agung No. 18, Kedaton, Bandar Lampung Telp : (0721) 782306

Copyright © 2018 Radar Radio

To Top